Sabtu, 02 Juni 2012

Dirjen Pendis "Tanpa spirit maka tidak mungkin bisa mengembangkan lembaga pendidikan Islam menjadi luar biasa dan bersaing menjadi yang terbaik,"


Dirjen Pendis
Prof. Dr. Nur Syam. M.Si

Ditjen Pendidikan Islam seringkali enggan memperlihatkan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di lingkungan Kementerian Agama sehingga berakibat minimnya pengetahuan masyarakat tentang kualitas lembaga pendidikan Islam padahal prestasi pendidikan Ditjen Pendis luar biasa," ungkap Prof. Dr. Nur Syam, M.Si ketika memberikan arahan dalam acara "Kegiatan Konsultasi dan Koordinasi Perencanaan Program Pendidikan Islam Pusat Daerah" yang diselenggarakan oleh Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi Setditjen Pendidikan Islam pada tanggal 6-9 Mei 2012 di Bogor.

Good governance, predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), dan hasil terbaik pun bisa dicapai dengan kerja cerdas, kerja keras dan kerja ikhlas. Dirjen Pendidikan Islam itupun menyampaikan bahwa lembaga pendidikan Islam harus senantiasa memperhatikan penyampaian informasi kepada publik tentang keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI. Diharapkan adanya peningkatan kualitas manajerial aparatur ke arah good governance agar kinerja baik yang dilakukan Ditjen Pendidikan Islam dapat diketahui oleh masyarakat. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memperkuat pembangunan karakter pendidikan Islam melalui media massa.

"Sebagai bukti ada enam perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Agama yang berada dalam perguruan tinggi terbaik versi webometrics. Selain itu ada tujuh perguruan tinggi dan puluhan madrasah unggulan yang memiliki standar ISO. Maka harus ada pemetaan yang baik tentang lembaga pendidikan. Hal tersebut sebagai jawaban atas pengeloaan anggaran pendidikan yang ada di lingkungan Kementerian Agama RI," ujar Nur Syam.

"Status Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) bisa diperoleh oleh Kementerian Agama RI pada tahun 2012 dikarenakan pengelolaan kegiatan dan laporan keuangan telah sesuai dengan aturan yang berlaku dan keseriusan dalam berbagai penyelenggaraan pendidikan Islam," ungkap mantan Rektor IAIN Sunan Ampel. Nur Syam pun berharap bahwa sebagai aparatur negara harus bekerja secara cerdas, bekerja dengan keras dan bekerja penuh ikhlas. "Bukan sekedar beramal seikhlasnya. Melainkan harus bekerja cerdas, kerja keras dan kerja ikhlas untuk mencapai prestasi terbaik".

Program-program Kementerian Agama yang menjadi prioritas pun banyak berpihak kepada rakyat. Program/Kegiatan yang berada dalam pantauan Inpres oleh UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan) pun sarat akan keberhasilan pendidikan yang diselenggarakan oleh Ditjen Pendidikan Islam.

"Tidak usah berpikir tentang politik pencitraan yang dilakukan oleh politisi terkait program pemerintah. Kinerja yang baik agar bermanfaat bagi rakyat sudah sepantasnya dilakukan oleh kita semua selaku penanggungjawab pendidikan Islam. Contoh program BOS yang alhamdulillah hingga saat kuartal pertama tersalur sebesar 35%. Sehingga target 50% pada kuartal kedua akan memberikan rasa nyaman. Prestasi penyaluran beasiswa miskin, rehab ruang kelas berat, dan sistem GIS pada madrasah pun di tahun 2012 pun harus ditonjolkan sebagai prestasi,"papar Nur Syam.

Saat ini diperkirakan ada 65 ribu madrasah, kira-kira 49% yang belum terakreditasi. Kesenjangan antara lembaga pendidikan yang terakraditasi harus diperkecil selain meningkatkan kualitasnya. Kita targetkan semoga nanti ada 11 MAN Insan Cendikia di seluruh Indonesia di tahun 2014, Mahad Aly pun harus dipersiapkan untuk 10 standar nasional pendidikannya. Besaran anggaran sertifikasi guru dan dosen harus diperhatikan, angka 2,4 triliun untuk anggaran sertifikasi harus dipertanggungjawabkan, maka konsekuensinya adalah para guru dan dosen harus dihukum jika tidak melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Pengawas sebanyak 5 ribu orang yang berada dalam binaan Direktorat PAI (Pendidikan Agama Islam) juga senantiasa dipantau data dan kinerjanya dalam bentuk fisik dan virtual oleh Ditjen Pendidikan Islam.

"Lembaga pendidikan Islam yang ada di Kementerian Agama harus menjadi lembaga pendidikan terbaik. Untuk itu harus ada ruh, spirit, dan etos kerja. Tanpa spirit maka tidak mungkin bisa mengembangkan lembaga pendidikan Islam menjadi luar biasa dan bersaing menjadi yang terbaik," papar Dirjen.

0 komentar:

Posting Komentar